Kamis, 11 September 2008

baru

5 ALIRAN BESAR DALAM PSIKOLOGI

1. Di bawah ini yang termasuk inti dari Behavioral ialah, kecuali :
a. Faktor pengalaman lebih penting daripada faktor keturunan
b. Penyerapan Psikologi dalam kehidupan sehari-hari
c. Mempelajari kejadian di sekeliling dan perilaku yang dapat diamati
d. Meneliti perilaku makhluk lain

2. Sigmund Freud adalah tokoh dari aliran :
a. Behavioral
b. Cognnitive
c. Humanistic
d. Psychoanalitic

3. Tokoh dari aliran Cognitive adalah :
a. Jean Piaget
b. John Watson
c. Sigmund Freud
d. James Olds

4. Di bawah ini yang termasuk 5 aliran besar dalam Psikologi adalah :
a. Behaviorisme
b. Fungsionalisme
c. Strukturalisme
d. Empirisme

5. Metode terapi dari aliran Psikoanalitik adalah :
a. Intropeksi
b. Stimulus respon
c. Asosiasi bebas
d. Analisa

6. Aliran Psikoanalitik mulai muncul pada tahun :
a. 1900
b. 1950
c. 1910
d. 1913

7. Lingkungan yang membentuk perilaku adalah teori dari aliran :
a. Psikoanalitik
b. Humanistic
c. Behavioral
d. Biological

8. James Olds, Roger Sperry dalah tokoh dari aliran :
a. Psikoanalitik
b. Humanistic
c. Behavioral
d. Biological

9. Manusia di alam sadar adalah teori dari :
a. Psikoanalitik
b. Humanistic
c. Behavioral
d. Biological

10. Metode dari aliran Behavioral adalah :
a. Intropeksi
b. Asosiasi bebas
c. Hipnotis
d. Stimulus Respon

Aku yang membadan

Di dalam kehidupan kita tidak pernah menyadari apa sebenanya arti aku, siapa aku? Aku adalah diriku secara keseluruhan.
Kita dapat mengenali benda- benda disekeliling kita karena benda tersebut mempunyai ciri yang khusus. Entah dari segi fungsi, bentuk ataupun materi penyusunnya. Bagaimana dengan aku ? Siapakah aku ? Aku adalah jiwa yang membadan, dan badan yang menjiwa. Apa arti badan? Menurut pandangan tokoh- tokoh terdahulu badan merupakan wadah dari jiwa, dan jiwa merupakan esensi terpenting dari aku.
Jiwa dan badan merupakan dua aspek yang tidak dapat dengan real dibedakan ataupun dilawankan satu sama lain. Badan adalah bentuk konkrit dari jasmaniku atau badan adalah aku sendiri dalam kedudukanku sebagai makhluk jasmani. Badan bersatu dengan realitas di sekitarnya sehingga aku bisa bangkit, berdiri sendiri, menempatkan diri, melihat diri dan barang-barang sekitarnya, berjalan, bertindak, dll.
Badan berbeda dengan aku, karena secara logika aku bisa berkata badanku. Aku sebagai makhluk jasmani berupa badan, dengan kata lain badan termuat dalam aku. Pernyataan ini menyatakan bahwa badan bukan sesuatu yang menempel seperti baju, topi, dsb tetapi badan adalah unsur dari aku. Badan bisa juga dikatakan sebagai penampakan dari aku, bisa juga disebut ekspresi manusia, karena pada hakekatnya aku merupakan badan seratus persen, juga merupakan jiwa seratus persen.
Mengapa jika badanku tak lengkap, seperti tanpa tangan ataupun tanpa rambut, yang keduanya merupakan anggota badan, aku tetap dikenal dan diakui sebagai aku ??? Dan sebaliknya jika jiwaku terganggu atau sedang mengalami depresi, aku tetap dikenal sebagai aku ????



Hal ini hanya dapat sedikit dimengerti jika kita tidak berusaha membedakan badan dan jiwa dari kesatuan sebagai aku. Sebaliknya kita tidak akan bisa jika kita memandang jiwa dan badan sebagai aspek yang saling menyangkal dan dapat dibedakan, karena badan dan jiwa pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang disebut sebagai aku.
Bagaimana cara kita mengenali bahwa jiwa benar- benar ada dan eksis ? Jiwa akan tampak ketika badan beraktifitas, yaitu ketika badan digayakan atau difokuskan oleh jiwa. Jika benar jiwa hanya akan tampak saat badan beraktifitas, bukankah jiwa hanya sebagai ”pendompleng” saja ? karena tanpa badan eksistensi jiwa tidak dapat terlihat. Atau malahan jiwa itu tidak ada, karena semua gaya atau aktifitas badan kita hanya disebabkan stimulus disekitar atau dilingkungan saja ?
Kita akan semakin sukar dan kewalahan sendiri jika kita mencoba memecah yang pada dasarnya merupakan satu yaitu sebagai satu kesatuan sebagai aku. Sebaliknya kita akan dapat untuk mencoba mengerti jika kita memandang badan dan jiwa merupakan satu kesatuan sebagai aku.
Aku merupakan badan sekaligus jiwa, jadi kalimat aku yang membadan rasanya kurang tepat, karena kalimat tersebut menyatakan bahwa badan hanya merupakan bagian atau secuil dari aku. Padahal aku merupakan suatu kesatuan dari jiwa dan badan yang tidak dapat dipisahkan, dan hanya dapat dipisahkan saat kita menghadap Yang Kuasa.








Aku di Timur

Konseptualisasi psikologi mendasar yang kita ketahui saat ini dibentuk, dikembangkan, distrukturkan dan diperdebatkan selama 2.500 tahun kemajuan intelektual yang penuh pertentangan yang telah berlalu sejak berkembangnya pemikiran Yunani klasik. Walaupun keterkaitan intelektual yang telah berlangsung lama antara psikologi empiris kontemporer dan pemikiran barat merupakan sesuatu yang tampak nyata, namun penting untuk dipahami bahwa berbagai filsafat non barat telah memberikan perhatian besar terhadap karateristik manusia dan dunia internal refleksi individual. Berbagai sumber psikologi non barat pada masa lampau ini sering kali membawa pencapaian baru bagian kemajuan intelektual barat atau penemuan kembali karya-karya tulis kuno yang disimpan oleh para cendekiawan timur. Berbagai peristiwa merupakan perkembangan yang berjalan secara paralel dengan hanya sedikit interaksi, naamun dalam beberapa kasus berbagai kemajuan dapat memperkaya tradisi barat. Beberapa perbedaan antara nilai budaya Timur dan nilai budaya Barat, yaitu :

Perbedaan Barat Timur
Pengetahuan a. Menekankan metode pengetahuan berdasarkan akal budi, penggunaan, penelitian, analisis hukum-hukumm”manusia-binatang berbudi”. Konsep kata itu penting. a. Menekankan intuisis daripada akal budi pusat kepribadian bukan akal budi, tetapi ”hati” yang mempunyai pertimbangan sendiri. Komunikasi bukan lewat kata saja tetapi lewat perasaan.


b. Menciptakan rumusan-rumusan abstarak kemana seluruh alam semesta tercakup. b. Menciptakan simbol-simbol, ungkapan konkret.
c. Tujuan belajar untuk menguasai ilmu c. Tujuan belajar menjadi bijaksana
Sikap terhadap alam ”Manusia secara abadi terlihat dalam tiga konflik dasar : melawan diri sendiri melawan lain” Manusia satu dengan alam semesta melawan substansialitas. (Budhisme)
Hormat terhadap orang antar hubungan ssegala ciptaan.
Ideal Hidup a. manusia sebagai aktor, aktif membentuk sejarah, waktu punya arti positif, percaya akan kemampuan-nya untuk memperbaiki nasib. a. hidup yang nilai tertinggi-nya datang dari dalam, mau menerima keadaan sekarang mengumpulkan pengalaman, mengintegrasi diri, hidup dekat dengan tanah, alaam dan segalanya.
b. Tekanan pada : inkarnasi, optimisme, dinamisme, terlibat b. Tekanan pada : ekskarnasi, pesimisme, pasivitas, menarik diri.
Status Persona a. hak-hak dan kebebasan individu, otonomi dihormati. a. Nilai manusia diakui, ego disangkal (Budhisme), tidak ada ego yang punya keunikan sendiri. Semua manusia merupakan manifestasi pribadi universal. Kebijakan Wu-Wei
b. percaya pada diri sendiri, terus terang, realistis, ”berani menjadi”. Menghargai pribadi yang kreatif dan ”tidak biasa” b. Kompromi sosial : partisipasi.







Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat Manusia
Filsafat manusia (antropologi filsafat) adalah bagian dari system filsafat yang secara spesifik menyoroti hakikat manusia. Secara metodis, filsafat manusia mempunyai kedudukan kurang lebih setara dengan cabang-cabang filsafat lainnya seperti etika, epistemology, filsafat social, kosmologi, dan estetika. Tetapi secara ontologis, filsafat manusia mempunyai kedudukan yang lebih penting karena semua cabang filsafat tersebut pada prinsipnya berawal pada persoalan asasi manusia yang tidak lain adalah objek kajian dalam filsafat manusia.
Objek material filsafat manusia dan ilmu-ilmu tentang manusia adalah gejala-gejala manusia. Filsafat manusia pada dasarnya bertujuan untuk menyelidiki,menginterpretasi,dan memahami gejala – gejala manusia. Secara umum setiap cabang ilmu tentang manusia mendasar penyelidikannya pada gejala-gejala empiris, yang bersifat obyektif kemudian diselidiki dengan metode observasi dan eksperimen. Sebaliknya, filsafat manusia tidak membatasi pada gejala empiris karena bahan kajian filsafat manusia merupakan bentuk gejala apapun tentang manusia sejauh bisa dipikirkan secara rasional. Filsafat manusia itu sendiri bersifat voraussetzungslos, artinya aksioma manapun, prasangka atau prapendapat mana saja dapat ditolak, yang hanya dapat diterima apabila meyakinkan secara pribadi, dengan alasan-alasan dan dasar yang jelas. Yang dicari ialah le fait primitive, ataupun “fakta yang asli”, yang akan mendasari dan merangkum seluruh pemahan kita.

SEJARAH FILSAFAT MANUSIA
Manusia selalu merupakan objek penyelidikan baik dalam filsafat Yunani maupun filsafat Kristiani. Tetapi manusia tidak selalu didekati dengan cara yang sama atau dari segi pandang yang sama.
Dalam filsafat Yunani klasik manusia dipelajari melalui suatu kerangka kosmosentris, dalam filsafat modern dan kontemporer dalam kerangka antroposentris. Dari sini sangatlah jelas bahwa dari studi yang berbeda dapat menghasilkan gambaran manusia yang berlainan.
Bagi Aristoteles manusia terdiri dari jiwa dan badan. Jiwa berperan sebagai “Forma” dan karenanya walaupun lebih luhur dari tubuh tidak lepas dari kerusakan dan maut.
Plotinus mengambil alih konsepsi plato antara jiwa dan badan. Pengertian intelektif secara eksklusif termasuk jiwa sedangkan kegiatan lainnya yang digerakkan tubuh diresapi oleh jiwa.
Jadi meskipun ada perbedaan baik dalam pendekatan maupun isinya namun ada tema dalam sejarah refleksi tentang mansia selalu muncul. Tema-tema sentral tentang manusia inilah yang akan dibahas dalam filsafat manusia.

METODE DALAM FILSAFAT MANUSIA
1. Metode Kritis (negative)
Metode dengan pemikiran mengenai manusia dengan membahas pandangan yang ada dalam sejarah secara kritis dan kemudian menyusunnya secara sistematis. Pada umumnya metode ini tidak membawa orang kearah pemahaman yang benar-benar positif. Kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh hanya tercapai karena pemecahan-pemecahan lain disingkirkan satu per satu dengan metode eliminasi.
2. Metode Analitika Bahasa(Linguistic Analisis)
Metode ini bertitik tolak dari bahasa sehari-hari, terutama meneliti bermacam-macam permainan bahasa yang secara nyata dipergunakan orang diberbagai bidang. Lalu berusaha membahas cara pmakaian bahasa itu dan membersihkannya dari kekaburan dan semua corak bukan logis, sampai akhirnya berusaha menyusun “bahasa” buatan yang bersih dan serba logis.
3. Metode Fenomenologis
Metode ini berusaha menemukan kembali pengalaman asli melalui beberapa langkah, misalnya fenomena diselidiki secara langsung dan spontan. Dengan proses penyelidikan itu lama kelamaan tampaklah kembali susunan dunia manusiawi yang benar yang telah dialami.
4. Metode Transendental
Metode ini bertitik tolak dari fakta kegiatan berbicara dan berfikir dalam manusia. Metode ini merupakan salah satu metode metafisik, yaitu suatu metode yang hendak mencari asas fundamental dari kenyataan dan menempatkan setiap hal dalam keseluruhan knyataan.
5. Metode Eksistensialis
BAB I
PENGERTIAN EMPIRISME

Empirisme berasal dari kata Yunani, emperia, yang berarti pengalaman inderawi. Jadi empirisme dapat diartikan kepada paham yang menjadikan pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman adalah keseluruhan hal yang ditangkap ileh alat indra, dan telah kita alami atau pelajari pada masa lalu. Dengan rujukan masa lalu, kaum empirisme dapat meramalkan sesuatu di kemudian hari. Menurut kaum impirisme metode ilmu pengetahuan bersifat a posteriori yaitu metode yang berdasarkan atas hal-hal yang akan datang kemudian.
Dalam teori empirisme terdapat tiga aspek :
• Subyek adalah unsur yang menjalani pengalaman
• Obyek adalah unsur yang dikenai pengalaman, serta
• Kebenaran dari fakta yang didasarkan pengalaman manusia
Akal manusia dapat berfungsi jika manusia mempunyai pengalaman. Oleh karena itu, kaum empirisme berkeyakinan bahwa manusia tidak mempunyai ide-ide bawaan (innate ideas), karena kaum empirisme berpendapat bahwa manusia ibarat kertas putih yang belum terdapat coretan apapun, dan pengalaman berperan sebagai pena atau kuasnya.
Karena sasaran yang diamati kaum empirisme adalah sifat-sifat yang dapat diindera. Maka timbul perbedaan pandangan atau pengertian antara tiap individu. Hal ini disebabkan antara indera yang satu dengan yang lain dapat menangkap sesuatu yang berbeda sesuai dengan barang atau makhluk yang menjadi obyeknya.





BAB II
TOKOH-TOKOH EMPIRISME

A. JOHN LOCKE (1632-1704)
John Locke adalah bapak kaum empirisme berasal dari Britania. John Locke terdorong untuk mengemukakan tentang asal mula gagasan manusia, kemudian menentukan fakta, menguji kepastian pengetahuan dan memeriksa batas-batas pengetahuan manusia. Menurut John Locke pengalaman ada dua yaitu, pengalaman batiniah (reflection) dan pengalaman lahiriah (sensation). Pengalaman tersebut diperoleh dari jiwa berdasarkan pengalaman empiris. Locke mencatat bahwa jiwa seseorang saat dilahirkan adalah masih bersih bagaikan kertas putih yang kosong dari segala karakter tanpa ide(teori tabula rasa). Maksudnya ialah jiwa seseorang pada mulanya adalah kosong, lalu jiwa yang bagaikan kertas putih ini akan diisi dengan pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari perjalanan hidup seseorang. Mula-mula tangkapan indera atau pengalaman yang masuk dalam diri seseorang itu sederhana, namun secara bertahap menjadi kompleks, lalu tersusunlah pengetahuan yang berarti. Jiwa manusia berhubungan dengan dunia luar melalui panca indera.
Menurut Locke ada 2 macam ide, yaitu :
1. Ide sederhana, terbentuk dari penginderaan obyek secara langsung tanpa ada pengolahan yang logis. Ide simple timbul dari sensori dan refleksi.
2. Ide kompleks, dari kumpulan ide sederhana melalui asosiasi-asosiasi menjadi ide gabungan.
Semua ide baik yang sederhana maupun kompleks, intinya berdasarkan pengalaman. Pada hakekatnya setiap ide bersifat subyektif menyesuaikan kualitas primer (ciri khas suatu benda) yang ditangkap oleh masing-masing orang melalui inderanya. Sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh indera bukanlah pengetahuan yang benar. Jadi pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar.

B. DAVID HUME (1711-1776)
David Hume adalah seorang filosof yang belajar di Universitas Edinburg, tetapi tidak lulus. Setelah kembali ke Inggris, dia mempublikasikan “A Treatise Of Human Nature” (1739) yang merupakan karya utamanya dalam bidang psikologi. Hume mendukung Locke tentang campuran ide sederhana dan kompleks, Ia membuat teori asosiasi lebih tersirat. Hume menegaskan bahwa cara untuk memperoleh pengetahuan adalah memperoleh pengalaman. Menurutnya, sumber pengetahuan adalah pengalaman. Beliau menegaskan dua hal yang diperoleh dari pengamatan, yaitu kesan dan ide. Kesan adalah pengalaman sederhana dari pengamatan langsung tanpa diikuti oleh sensasi dan persepsi. Sedangkan ide adalah pengamatan samar yang dihasilkan dari merefleksikan kesan- kesan yang diterima. Hume menggunakan prinsip-prinsip empiristis secara radikal. Terutama pengertian substansi dan kausalitas menjadi objek kritiknya. Jika suatu gejala tertentu selalu disusul oleh gejala berikutnya, maka kita cenderung berpikir bahwa gejala yang terakhir disebabkan gejala yang pertama. Sedangkan menurut Hume, pengalaman hanya memberikan urutan gejala dan tidak memperlihatkan ikatan sebab-akibat. Ia juga menegaskan bahwa pengalaman lebih memberi keyakinan dibandingkan logika sebab akibat. Seperti halnya kita membuat air mendidih. Itu bukanlah hal yang dapat dilihat dengan mata sebagai berada dalam air yang direbus. Hume menegaskan bahwa semua pengetahuan datang dari pengalaman inderawi dan isi dari akal manusia adalah kesan- kesan dan ide- ide.
Menurut Hume, Yang menyebabkan kita mempunyai pengertian substansi (sesuatu yang tetap), karena pengalaman yang berulang kali terjadi, sehingga kita menganggap bahwa kita punya pemahaman tentang suatu hal, tetapi sebenarnya hal tersebut tidak seperti itu. Hume tidak menerima substansi karena yang dialami hanya kesan-kesan tentang beberapa ciri yang terdapat di objek tersebut. Misalnya pada kertas memiliki ciri-ciri putih, licin, erat, dan sebagainya. Tetapi atas dasar pengalaman tidak dapat disimpulkan bahwa dibelakang ciri-ciri tersebut masih ada substansi yang tetap.



BAB III
ANALISA KRITIS

Empirisme hanya memberikan keyakinan bukan kebenaran. Hal ini disebabkan empirisme didasarkan pada tangkapan inderawi, sedangkan indera manusia terbatas. Misalnya :
• Objek yang jauh kelihatan kecil
Pemahaman tentang benda tersebut akan salah, karena indera kita tidak menangkap objek secara keseluruhan. Contohnya kita melihat perahu dari kejauhan, pasti kita hanya dapat melihat layarnya saja.
• Objek yang tidak sebenarnya (fatamorgana dan ilusi)
Maksudnya objek yang kita terima tidak sesuai dengan apa yang di tangkap oleh indera. Misalnya kita melihat seperti ada air di jalan tersebut dari kejauhan, setelah kita lewati jalan tersebut ternyata tidak ada airnya.
• Indera yang menipu
Contohnya pada orang yang sakit, gula akan terasa pahit dan udara akan terasa dingin, sehingga dapat menimbulkan pengetahuan empiris yang salah
Jadi menurut kami, pengetahuan empiris yang didasarkan pada indera intinya tidak dapat memberi kita kepastian yang benar. Karena hal yang ditangkap sangat subjektif dan tidak objektif. Sehingga hanya dapat memberikan keyakinan bukan kebenaran.










BAB IV
KESIMPULAN

Empirisme berasal dari kata emperia yang berarti pengalaman inderawi. Jadi empirisme dapat dikatakan sebagai segala sesuatu yang dialami manusia melalui apa yang dirasakan oleh panca indera. Jika segala sesuatu tidak dapat dibuktikan dengan panca indera, maka hal tersebut bukanlah pengalaman yang berarti. Masing-masing indera menangkap aspek yang berbeda-beda pada suatu objek. Menurut kaum empiris metode ilmu pengetahuan bersifat a posteriori, maksudnya ialah metode yang berdasarkan pada hal-hal yang terjadi kemudian.
Jhon locke, bapak empiris Britania mengemukakan teori tabula rasa. Maksud dari teori ini adalah bahwa manusia pada saat lahir pada mulanya kosong dari pengetahuan, lalu pengalaman yang terjadi akan mengisi jiwa manusia yang awalnya adalah kosong. Pengalaman tersebut akan menbuahkan pengetahuan. Mula-mula tangkapan indera yang masuk dalam diri seseorang itu sederhana, lama-kelamaan akan menjadi kompleks, lalu tersusunlah pengetahuan yang berarti. Oleh karena itu, pengalamanlah yang sangat penting dalam menentukan jiwa seseorang. Seseorang akan jadi baik atau jahat sangat tergantung pada pengalaman yang diperoleh.
David Hume, salah satu tokoh empirisme mengatakan bahwa sumber pengetahuan adalah pengamatan. Pengamatan yang kita lakukan memberikan 2 hal, yaitu kesan-kesan (impressions) dan ide-ide (ideas). David Hume menggunakan prinsip-prinsip empiristis dengan cara yang paling radikal. Terutama pengertian substansi dan kausalitas (hubungan sebab-akibat) menjadi objek kritiknya. Ia juga menegaskan bahwa pengalaman lebih memberi keyakinan dibandingkan kesimpulan logika atau sebab akibat (kausalitas). Kausalitas hanya memberi kita gejala yang saling berurutan dan secara konstan terjadi, sedangkan pengalaman hanya memberikan urutan gejala-gejala dan tidak memperlihatkan ikatan sebab-akibat (kausalitas).
Jadi dalam empirisme, sumber utama untuk memperoleh pengetauan adalah data empiris yang diperoleh dari panca indera. Namun aliran ini mempuyai beberapa kelemahan, antara lain :
• Objek yang jauh kelihatan kecil
Sehingga pemahaman tentang benda tersebut akan salah karena indera kita tidak melihat objek secara keseluruhan.
• Objek yang tidak sebenarnya, contohnya fatamorgana dan ilusi. Maksudnya objek yang kita terima tidak sesuai dengan apa yang di tangkap oleh indera.
• Indera yang menipu, maksudnya pada orang yang sakit, gula akan terasa pahit dan udara akan terasa dingin sehingga dapat menimbulkan pengetahuan empiris yang salah
Kelemahan dari paham empirisme antara lain :
• Empirisme didasarkan pada pengalaman
• Empirisme tidak memberikan kita kepastian
• Empirisme menitik beratkan pada persepsi panca indra, tetapi kenyataannya bahwa panca indra manusia adalah terbatas dan tidak sempurna
















DAFTAR PUSTAKA

Praja, Juhaya S., Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Jakarta: Prenada Media, 2003.
Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.
Sarwono, Sarlito Wirawan, Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1978.
Schultz, Duane, A History of Modern Psychology, New York: A subsidiary of Hartcourt Brace Jovanovitch, 1981.
Hadi, Handani, Epistemologi Filsafat Pengetahuan, Yogyakarta: Kanisius, 1994
Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta: Rineka Cipta, 2001.
Mustansyir, Rizal, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.
Bertens, K., Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1998.
Asy-Syarafa, Ismail, Ensiklopedi Filsafat, Jakarta: Khalifa, 2002.

Tidak ada komentar:

Mengenai Saya

Foto saya
Surabaya, JATIM, Indonesia
Aq cuma mw belajar n belajar.... klo da yg menurut temen2 da yg kurang,,,tolong beri tw ya!!!!!